Stroke adalah darurat medis yang terjadi ketika aliran darah ke otak terganggu, menyebabkan sel-sel otak mulai mati dalam hitungan menit. Setiap detik sangat berarti — semakin cepat pertolongan diberikan, semakin besar kemungkinan pemulihan. Metode BEFAST adalah cara mudah dan cepat untuk mengenali gejala awal stroke sehingga tindakan darurat dapat segera dilakukan.
Apa Itu Stroke?
Stroke terjadi ketika pasokan darah ke bagian otak terhenti atau berkurang drastis, sehingga jaringan otak tidak mendapatkan oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan. Ada dua jenis stroke utama: stroke iskemik, yang paling umum dan disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah otak; dan stroke hemoragik, yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah di otak.
Stroke iskemik menyumbang sekitar 87% dari seluruh kasus stroke. Penyebab utamanya adalah gumpalan darah (trombus) yang terbentuk di dalam pembuluh darah otak atau emboli yang berasal dari jantung. Stroke hemoragik, meski lebih jarang, umumnya lebih fatal karena perdarahan merusak jaringan otak secara langsung.
Golden Period stroke adalah 4,5 jam. Dalam waktu ini terapi trombolitik dapat menyelamatkan jutaan sel otak
Metode BEFAST
BEFAST adalah akronim yang diciptakan untuk memudahkan masyarakat mengenali tanda-tanda stroke dengan cepat. Setiap huruf mewakili gejala atau tindakan yang perlu diperhatikan:
B — Balance (Keseimbangan)
Perhatikan apakah seseorang tiba-tiba kehilangan keseimbangan, sulit berjalan, atau sempoyongan tanpa sebab yang jelas. Gangguan koordinasi gerak yang mendadak bisa menjadi tanda awal stroke yang menyerang serebelum atau batang otak.
E — Eyes (Mata/Penglihatan)
Waspadai jika seseorang tiba-tiba mengalami gangguan penglihatan, seperti penglihatan kabur, buram, gelap pada salah satu atau kedua mata, atau kesulitan melihat ke satu arah. Gangguan penglihatan mendadak tanpa rasa sakit adalah salah satu tanda stroke yang sering diabaikan.
F — Face (Wajah)
Minta orang tersebut untuk tersenyum. Jika satu sisi wajah terlihat turun, kaku, atau tidak bergerak simetris, ini bisa menjadi tanda kelumpuhan wajah akibat stroke. Tanyakan apakah mereka merasakan kebas atau mati rasa di satu sisi wajah.
A — Arms (Lengan)
Minta orang tersebut untuk mengangkat kedua lengan secara bersamaan dengan mata terpejam. Jika salah satu lengan melemah dan jatuh ke bawah, atau jika mereka tidak mampu mengangkat salah satu lengan, ini adalah tanda kelemahan satu sisi tubuh yang khas pada stroke.
S — Speech (Bicara)
Perhatikan cara bicara orang tersebut. Apakah bicaranya menjadi pelo, tidak jelas, tidak bisa berbicara sama sekali, atau mengucapkan kata-kata yang tidak masuk akal? Gangguan bicara mendadak, baik dalam mengucapkan maupun memahami kata-kata, adalah tanda stroke yang sangat penting.
T — Time (Waktu)
Jika Anda melihat satu atau lebih tanda di atas, segera hubungi layanan darurat atau bawa ke IGD rumah sakit terdekat. Catat waktu gejala pertama kali muncul karena informasi ini sangat penting bagi tim medis untuk menentukan penanganan yang tepat, terutama terkait pemberian terapi trombolitik dalam golden period.
Faktor Risiko yang Harus Dikontrol
Memahami faktor risiko stroke sama pentingnya dengan mengenali gejalanya. Dengan mengendalikan faktor risiko, kemungkinan terjadinya stroke dapat dikurangi secara signifikan:
- Hipertensi (tekanan darah tinggi) – Faktor risiko terbesar stroke. Tekanan darah yang tidak terkontrol merusak dinding pembuluh darah dan memicu pembentukan gumpalan. Pantau tekanan darah secara rutin dan konsumsi obat sesuai anjuran dokter.
- Diabetes melitus – Kadar gula darah yang tinggi merusak pembuluh darah dari dalam, meningkatkan risiko penyumbatan. Kontrol gula darah dengan pola makan sehat, olahraga, dan obat-obatan yang diresepkan dokter.
- Penyakit jantung (fibrilasi atrium) – Gangguan irama jantung dapat menyebabkan pembentukan gumpalan darah di jantung yang kemudian berpindah ke otak. Lakukan EKG secara berkala jika memiliki riwayat penyakit jantung.
- Merokok – Nikotin dan zat kimia dalam rokok mempersempit dan merusak pembuluh darah, meningkatkan risiko stroke dua hingga empat kali lipat. Berhenti merokok adalah salah satu langkah paling efektif untuk menurunkan risiko stroke.
- Kolesterol tinggi – Penumpukan plak lemak di dinding pembuluh darah (aterosklerosis) mempersempit aliran darah ke otak. Kontrol kadar kolesterol dengan pola makan rendah lemak jenuh dan obat-obatan bila diperlukan.
- Kurang aktivitas fisik dan obesitas – Gaya hidup sedentary dan kelebihan berat badan meningkatkan hampir semua faktor risiko stroke secara bersamaan. Olahraga rutin dan menjaga berat badan ideal adalah investasi terbaik untuk kesehatan otak jangka panjang.
Stroke bukan sekadar ancaman bagi lansia — semakin banyak kasus stroke yang ditemukan pada usia produktif. Kenali metode BEFAST, kendalikan faktor risiko, dan jangan ragu untuk membawa orang tersayang ke IGD Payangan Hospital jika mencurigai tanda-tanda stroke. Setiap menit yang terselamatkan adalah ribuan sel otak yang terlindungi.